Kabut
pelangi
By
Citra Diana
Gadis
itu diam membisu. Matanya menerawang jauh.
Dia diam tak bersuara.meredupkan sinar cahaya wajahnya yang meluluhkan
hati. Seakan-akan dia sedang meredam gejolak jiwanya yang nalar disana,
dikalbunya.
Aku
menatapnya lagi..dan lagi. Memandang wajahnya yang mulai pias tertutup kabut
gelisah. Siluet wajahnya nampaklah terlihat. Sayu..muram..tak bergairah. Seolah
ada setumpuk belenggu dan kegundahan yang membekas direlung hatinya.
Memang itulah kenyataannya. Hidupnya seperti terkurung
dalam belenggu yang menyesakkan dada.
Sungguh
ingin rasanya aku menangis,memeluknya erat. Namun apa daya, hanya air mata yang
tercipta. “mbak Mel??” sapaku lembut seraya menggenggam jemari tangannya. Namun
dia tak menjawab, tak bersura sedikitpun.
“mbak
Mel, coba deh liat bintang itu..” aku menunjuk ke langit
“dulu,
kita sering liat bintang jatuh,, kita sering menghitung bintang sama-sama. Itu
mbak..indah sekali..” ucapku sambil menatap keatas,memperhatikan
bintang-bintang yang berhamburan dilangit. Namun mbak Mel tetap tak bersuara.
Dia tetap diam.
Malam
itu,kalut masih menetap dihatinya. Tak ada semangat seperti dulu. Ingin rasanya
aku meringankan beban yang ada dipundaknya. Mbak Mel..kakaku yang cantik kini
terlihat sendu. Dulu dia begitu periang,namun kini hanya diam membisu.
****
Kiandra
amelia. Itulah namanya. Kakaku yang amat aku sayang. Aku tak sanggup
terus-menerus melihatnya seperti itu. Dulu dia sama sekali tak sepert itu. Dia
amat periang,humble,dan ceria. Diapun amat cerdas, sehingga tak heran pabila
dia diterima di universitas favorit di Bandung. Kami berdua sangat akrab. Aku
selalu menceritakan smua masalahku padanya. Aku sangat nyaman berada
didekatnya.
Namun
kejadian itu tlah merubah hidupnya. Semenjak kejadian itu,dia sama sekali tak
pernah bersikap seperti dulu. Kini dia menjadi pendiam,pemurung,bahkan pemarah.
Dia kadang slalu berbicara sendiri. Aku sungguh tak tega melihatnya. Kejiwaan
mbak Mel sepertinya bermasalah semenjak kejadian itu. Dia slalu brbicara tak
jelas. Selalu melamun…
***
“aku
wanita kotor. Aku sudah tak berguna lagi. Hidupku sudah tak ada harganya.
Smuanya tlah hilang. Smuanya tlah berlalu. Bengis .Aku seperti kotoran yang
hilang tertiup angin dan jatuh dipembuangan sampah. Hidupku sangat menyedihkan.
Aku mungkin lebih hina dari seorang pelacur. Harga diriku tlah dirampas. Harta
milikku satu-satunya tlah mereka ambil. Kesucianku.. sungguh aku tak mau
mengingatnya lagi. Mereka brengsek!! Dengan seenaknya mereka melucutiku. Mereka
ambil sesuatu yang sangat berharga bagi wanita. Sungguh mereka amat terkutuk.
Ingin rasanya aku lenyapkan mereka dari muka bumi ini. Ingin rasanya aku akhiri
semua hidupku ini. Agar bebanku hilang.. agar aku tenang..” itulah kalimat-kalimat yang sering ia
lontarkan setiap saat. Dia berbicara sendiri,tak jarang tangisnya pecah.
Sungguh miris hatiku melihat kondisi mbak Mel seperti itu.
***
Suatu
sore saat mbak Mel tengah melamun dibalkon, aku mendekatinya. Dia diam tak
bergeming berdiri ditempatnya. Aku
menghampirinya dan memeluknya erat. Aku tak mau kehilangan kakaku ini. Semenjak
kejadian itu,tak pernah sedikitpun ia mengulas senyum. Hari-harinya diliputi
awan sendu. Muram..diam..menangis.. hanya itu yang dia lakukan. Dia tak mau
keluar rumah. Dia hanya mau diam dikamarnya. Mbak Mel.. betapa malangnya
nasibmu.
Tiba-tiba
dia mulai membuka mulut. Dia akhirnya mau menceritakan kronologis kejadian itu.
Akupun mendengarkan dengan seksama. Tak jarang aku pun menitikn air mata pabila
ia menangis disela-sela ceritanya.
“malam
itu aku baru saja pulang dari rumah Sinta. Kami baru saja menyelesaikan tugas
kelompok. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ak melaju dengan motorku menuju
rumah. Sengaja aku tambah kecepatan,khawatir ibu mencariku. Karena tadi siang aku
belum pamit padanya. Diperempatan jalan, mendadak motorku mogok. Rupanya
bensinnya habis. Aku lupa mengeceknya tadi. Dan dengan malas, aku mendorongnya
menyusuri jalan. Sialnya gerimis turun. Dan dengan susah payah aku mencari tempat
berteduh. Dan aku memutuskan untuk berteduh disebuah pondok. Dengan perasaan
takut, aku duduk disebuah pondok yang letaknya sangat sepi. Hanya ada suara
angin. Tak ada siapa-siapa disana. Ingin sekali aku menelpon ibu, tapi hp ku
sudah tak bernyawa.
Tiba-tiba
dari arah belakang, segerombolan preman datang. Mereka melihat kearahku.
Seketika tubuhku langsung gemetar. Aku takut. Amat takut. Salah satu dari
mereka menarik tanganku. Aku berusaha melepaskannya ,namun tenagaku tak
sebanding. Mereka berlima,sedangkan aku seorang diri. Mereka langsung
menarikku,mendorongku hingga aku terjatuh kelantai. Mereka melepas paksa
jilbabku. Sunguh ingin rasanya aku
berlari. Aku amat ketakutan. Aku berteriak minta tolong,namun sia-sia. Tak ada
orang. Hanya sepi dan senyap yang melihatku.
Tiba-tiba
mereka merobek pakaianku hingga aku tak memakai sehelai kain pun. Aku menjerit
histeris .Aku berusaha melepaskan diri namun mereka malah menampar wajahku. Aku
berteriak berkali-kali melafadzkan nama allah, namum tak ada jawaban.. tak ada
suara..
Mereka
smakin menjadi-jadi. Mereka merusak kewanitaanku. Mereka menganiaya diriku.
Mereka berhasil merenggut harta
berhargaku. Setelah puas, mereka pergi. Mereka tinggalkan aku tergeletak
dijalan tanpa busana. Sungguh ingin rasanya aku mengakhiri hidupku saat itu
juga. Mengapa mereka tak membunuhku saja? Mengapa Tuhan tak mencabut nyawaku
saja? Aku tak bisa menerima smua ini. Dengan hati teriris,aku menutup mataku.
Air mata tak hentinya meleleh. Ini amat menjijikan”
Mendengar
cerita itu, aku tak mampu membendung air mataku. Aku menangis. Aku bisa
merasakan betapa sakitnya hati mbak Mel saat itu. Mereka itu brengsek. Bajingan
. Aku berusaha menenangan mbak Mel yang sedari tadi menangis.
“sabar
mbak, istigfar.. ini smua cobaan dari Allah. Mbak Mel harus tetap kuat. Harus
tegar ya. Allah pasti akan membalas smua perbuatan mereka. Ara yakin, dibalik
smua cobaan ini pasti ada hikmah yang luar biasa” aku memeluk mbak Mel erat. Aku
tak mau kehilangannya...
SELESAI…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar