Rabu, 15 Agustus 2012

tulisanku o_O


Kabut pelangi
By Citra Diana

Gadis itu diam membisu. Matanya menerawang jauh.  Dia diam tak bersuara.meredupkan sinar cahaya wajahnya yang meluluhkan hati. Seakan-akan dia sedang meredam gejolak jiwanya yang nalar disana, dikalbunya.
Aku menatapnya lagi..dan lagi. Memandang wajahnya yang mulai pias tertutup kabut gelisah. Siluet wajahnya nampaklah terlihat. Sayu..muram..tak bergairah. Seolah ada setumpuk belenggu dan kegundahan yang membekas direlung hatinya. Memang  itulah  kenyataannya. Hidupnya seperti terkurung dalam belenggu yang menyesakkan dada.
Sungguh ingin rasanya aku menangis,memeluknya erat. Namun apa daya, hanya air mata yang tercipta. “mbak Mel??” sapaku lembut seraya menggenggam jemari tangannya. Namun dia tak menjawab, tak bersura sedikitpun.
“mbak Mel, coba deh liat bintang itu..” aku menunjuk ke langit
“dulu, kita sering liat bintang jatuh,, kita sering menghitung bintang sama-sama. Itu mbak..indah sekali..” ucapku sambil menatap keatas,memperhatikan bintang-bintang yang berhamburan dilangit. Namun mbak Mel tetap tak bersuara. Dia tetap diam.
Malam itu,kalut masih menetap dihatinya. Tak ada semangat seperti dulu. Ingin rasanya aku meringankan beban yang ada dipundaknya. Mbak Mel..kakaku yang cantik kini terlihat sendu. Dulu dia begitu periang,namun kini hanya diam membisu.
****
Kiandra amelia. Itulah namanya. Kakaku yang amat aku sayang. Aku tak sanggup terus-menerus melihatnya seperti itu. Dulu dia sama sekali tak sepert itu. Dia amat periang,humble,dan ceria. Diapun amat cerdas, sehingga tak heran pabila dia diterima di universitas favorit di Bandung. Kami berdua sangat akrab. Aku selalu menceritakan smua masalahku padanya. Aku sangat nyaman berada didekatnya.
Namun kejadian itu tlah merubah hidupnya. Semenjak kejadian itu,dia sama sekali tak pernah bersikap seperti dulu. Kini dia menjadi pendiam,pemurung,bahkan pemarah. Dia kadang slalu berbicara sendiri. Aku sungguh tak tega melihatnya. Kejiwaan mbak Mel sepertinya bermasalah semenjak kejadian itu. Dia slalu brbicara tak jelas. Selalu melamun…
***
“aku wanita kotor. Aku sudah tak berguna lagi. Hidupku sudah tak ada harganya. Smuanya tlah hilang. Smuanya tlah berlalu. Bengis .Aku seperti kotoran yang hilang tertiup angin dan jatuh dipembuangan sampah. Hidupku sangat menyedihkan. Aku mungkin lebih hina dari seorang pelacur. Harga diriku tlah dirampas. Harta milikku satu-satunya tlah mereka ambil. Kesucianku.. sungguh aku tak mau mengingatnya lagi. Mereka brengsek!! Dengan seenaknya mereka melucutiku. Mereka ambil sesuatu yang sangat berharga bagi wanita. Sungguh mereka amat terkutuk. Ingin rasanya aku lenyapkan mereka dari muka bumi ini. Ingin rasanya aku akhiri semua hidupku ini. Agar bebanku hilang.. agar aku tenang..”  itulah kalimat-kalimat yang sering ia lontarkan setiap saat. Dia berbicara sendiri,tak jarang tangisnya pecah. Sungguh miris hatiku melihat kondisi mbak Mel seperti itu.
***
Suatu sore saat mbak Mel tengah melamun dibalkon, aku mendekatinya. Dia diam tak bergeming berdiri  ditempatnya. Aku menghampirinya dan memeluknya erat. Aku tak mau kehilangan kakaku ini. Semenjak kejadian itu,tak pernah sedikitpun ia mengulas senyum. Hari-harinya diliputi awan sendu. Muram..diam..menangis.. hanya itu yang dia lakukan. Dia tak mau keluar rumah. Dia hanya mau diam dikamarnya. Mbak Mel.. betapa malangnya nasibmu.
Tiba-tiba dia mulai membuka mulut. Dia akhirnya mau menceritakan kronologis kejadian itu. Akupun mendengarkan dengan seksama. Tak jarang aku pun menitikn air mata pabila ia menangis disela-sela ceritanya.
“malam itu aku baru saja pulang dari rumah Sinta. Kami baru saja menyelesaikan tugas kelompok. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ak melaju dengan motorku menuju rumah. Sengaja aku tambah kecepatan,khawatir ibu mencariku. Karena tadi siang aku belum pamit padanya. Diperempatan jalan, mendadak motorku mogok. Rupanya bensinnya habis. Aku lupa mengeceknya tadi. Dan dengan malas, aku mendorongnya menyusuri jalan. Sialnya gerimis turun. Dan dengan susah payah aku mencari tempat berteduh. Dan aku memutuskan untuk berteduh disebuah pondok. Dengan perasaan takut, aku duduk disebuah pondok yang letaknya sangat sepi. Hanya ada suara angin. Tak ada siapa-siapa disana. Ingin sekali aku menelpon ibu, tapi hp ku sudah tak bernyawa.
Tiba-tiba dari arah belakang, segerombolan preman datang. Mereka melihat kearahku. Seketika tubuhku langsung gemetar. Aku takut. Amat takut. Salah satu dari mereka menarik tanganku. Aku berusaha melepaskannya ,namun tenagaku tak sebanding. Mereka berlima,sedangkan aku seorang diri. Mereka langsung menarikku,mendorongku hingga aku terjatuh kelantai. Mereka melepas paksa jilbabku. Sunguh  ingin rasanya aku berlari. Aku amat ketakutan. Aku berteriak minta tolong,namun sia-sia. Tak ada orang. Hanya sepi dan senyap yang melihatku.
Tiba-tiba mereka merobek pakaianku hingga aku tak memakai sehelai kain pun. Aku menjerit histeris .Aku berusaha melepaskan diri namun mereka malah menampar wajahku. Aku berteriak berkali-kali melafadzkan nama allah, namum tak ada jawaban.. tak ada suara..
Mereka smakin menjadi-jadi. Mereka merusak kewanitaanku. Mereka menganiaya diriku. Mereka berhasil  merenggut harta berhargaku. Setelah puas, mereka pergi. Mereka tinggalkan aku tergeletak dijalan tanpa busana. Sungguh ingin rasanya aku mengakhiri hidupku saat itu juga. Mengapa mereka tak membunuhku saja? Mengapa Tuhan tak mencabut nyawaku saja? Aku tak bisa menerima smua ini. Dengan hati teriris,aku menutup mataku. Air mata tak hentinya meleleh. Ini amat menjijikan”
Mendengar cerita itu, aku tak mampu membendung air mataku. Aku menangis. Aku bisa merasakan betapa sakitnya hati mbak Mel saat itu. Mereka itu brengsek. Bajingan . Aku berusaha menenangan mbak Mel yang sedari tadi menangis.
“sabar mbak, istigfar.. ini smua cobaan dari Allah. Mbak Mel harus tetap kuat. Harus tegar ya. Allah pasti akan membalas smua perbuatan mereka. Ara yakin, dibalik smua cobaan ini pasti ada hikmah yang luar biasa” aku memeluk mbak Mel erat. Aku tak mau kehilangannya...
SELESAI…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar